MAROS – Upaya memperkuat ekosistem keilmuan di tingkat nasional kembali mendapat momentum signifikan. Perhelatan Sultan Hasanuddin Forum on Research and Innovation resmi dilaksanakan dengan sukses, menandai babak baru dalam upaya akselerasi riset dan inovasi di Indonesia (Rabu, 29 April 2029) bertempat di bandara internasional Sultan Hasanuddin.
Forum strategis ini dirancang sebagai wadah kolaboratif untuk mempercepat hilirisasi riset dan pengembangan inovasi. Uniknya, forum ini memanfaatkan posisi strategis Bandara Sultan Hasanuddin sebagai simbol konektivitas nasional untuk menggerakkan sinergi antarlembaga dan para peneliti dari berbagai wilayah.
Keberhasilan agenda ini tidak lepas dari peran aktif IAI Rawa Aopa Konawe Selatan. Melalui keterlibatan dalam kolaborasi berskala nasional, institusi tersebut menunjukkan komitmen nyata dalam mendorong terciptanya ekosistem keilmuan yang lebih dinamis dan inklusif.
Keikutsertaan IAI Rawa Aopa dalam forum ini menjadi bukti bahwa institusi pendidikan tinggi dari berbagai daerah memiliki posisi sentral dalam memajukan standar riset nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat memicu lahirnya terobosan-terobosan baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Sultan Hasanuddin Forum tidak hanya menjadi ajang pertemuan formal, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator bagi para praktisi dan akademisi untuk bertukar gagasan. Fokus utama forum ini adalah memastikan bahwa setiap inovasi yang lahir mampu memberikan dampak luas bagi pembangunan bangsa.
Dengan berakhirnya rangkaian acara ini, diharapkan semangat kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut melalui berbagai proyek riset bersama dan pengembangan kebijakan berbasis bukti di masa depan.
Ismail Suardi Wekke, Komite Saintifik Southeast Asian Academic Mobility (SEAAM) sekaligus Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan bukti nyata kebangkitan kedaulatan intelektual dari wilayah timur Indonesia.
Ismail menjelaskan bahwa forum ini telah melampaui ekspektasi dalam membangun konektivitas global bagi para peneliti.
Keberhasilan tersebut tercermin dari kemampuan forum dalam menjembatani peneliti lokal ke dalam jaringan akademik internasional melalui peran strategis SEAAM, yang pada akhirnya memberikan daya tawar lebih bagi hasil riset nasional di kancah global.
Lebih lanjut, pria yang membidangi Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian di IAI Rawa Aopa ini menyoroti bahwa inovasi yang lahir dari forum ini memiliki relevansi yang sangat tinggi terhadap kebutuhan masyarakat. Ia menilai keberhasilan forum tidak lagi diukur dari tumpukan teori di atas kertas, melainkan dari sejauh mana solusi praktis yang ditawarkan mampu menjawab tantangan zaman dan menjadi motor penggerak pembangunan.
Dari sisi manajerial, Ismail menekankan bahwa keberhasilan riset yang berkelanjutan mustahil tercapai tanpa dukungan tata kelola institusi yang kuat. Ia menggarisbawahi pentingnya sinergi antara perencanaan keuangan yang transparan dengan pengembangan kapasitas kepegawaian. Menurutnya, IAI Rawa Aopa berkomitmen untuk mengadopsi model keberhasilan forum ini ke dalam perencanaan strategis kampus guna memastikan setiap dosen dan peneliti memiliki ruang tumbuh yang optimal.
Sebagai penutup, Ismail mendorong agar momentum keberhasilan Sultan Hasanuddin Forum ini segera ditindaklanjuti dengan penguatan sinergi kelembagaan. Ia berharap hasil-hasil inovasi yang telah dipaparkan tidak berhenti pada tahap presentasi, melainkan diimplementasikan melalui kerja sama konkret lintas sektoral untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Laporan:Red






